REZEKI YANG TELAH DITETAPKAN  

Diposkan oleh Hendri

“Kesungguhan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukan basirah (mata hati) yang tertutup.”

Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang diminta pertanggung jawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggung Jawaban itu, tidak lain adalah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dujamin oleh Allah swt kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah, apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berate Allah swt adalah pemilik yang sah dari semua harta yang ada ditangan manusia. Allah Ta’ala akan rida apabila rezeki Allah Ta’ala itu akan menghidupkan syariat, kesejahteraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ketempat maksiat.

Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sunggu-sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah swt itu menjadi suatu keharusan, bahkan bias menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana pula Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakan rezeki. Demikian halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing-masing. Sebagaimana Allah berfirman, “ Tiada seekor binatang melata pun dimuka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya… “ (Hud : 6)

Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah-limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing-masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih-lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerusakan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan hati manusia.

Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh-sungguh selalu memperhatikan pula cara bermuamalah, sikap hati-hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur’anul Karim, “ Perintahlah keluargamu mendirikan salat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.” (QS. Al-Isra’:13).

Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba-hamba-NYA, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

Seperti sudah dujelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus diijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia-siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesame hamba-NYA.

Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia utnuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup di dunia, termasuk pula untuk bekal idup diakhirat. Apabila harta yang telah direzekikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal saleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Alllah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Berbekallah kamu, karena sebaik-baiknya bekal adalah menunjukkan ketakwaanmu kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 197).

Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang-orang dhu’afa.

Disalin dari buku Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam karangan Syekh Ahmad Ataillah.

Jalan-Jalan Ke Propinsi Tetangga  

Diposkan oleh Hendri

Menjelang berakhirnya tahun 2008 ini kami para karyawan Kantor Camat Tempuling melaksanakan penyegaran dengan cara berwisata ke propinsi tetangga yakni propinsi Sumatera Barat tepatnya d Kota Padang dan Bukit Tinggi.

Sudah lama sekali rasanya tidak berkunjung ke propinsi tetangga ini terutama buat saya pribadi. Dahulu memang pernah berkunjung tapi sudah lama sekali yakni sejak masih kuliah di pekanbaru kira-kira tahun 1993. Saat itu saya dan rekan-rekan di Fakultas Ekonomi UNRI satu angkatan dan kelas pergi bersama-sama bertamasya ke Bukit Tinggi.

Memang kota Bukit Tinggi cukup dikenal orang sebagai salah satu tujuan wisata baik oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Keindahan alamnya yang penuh perbukitan dan kesejukan udaranya cukuplah membuat nyaman bagi siapa saja yang berkunjung kekota ini.

Ada banyak objek wisata yang dapat dikunjungi dikota ini diantaranya adalah kebun binatang, pemandangan ngarai sihanok yang elok, ada lubang-lubang bekas peninggalan saat penjajahan jepang tempo dulu, jam gadang ditengah-tengah kota bukit tinggi, air terjun di lembah anai serta objek-objek wisata lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah wisata belanjanya yang murah meriah.

Rombongan saya yang terdiri dari rekan-rekan satu kantor yang domotori oleh Camat Tempuling T.M. Syaifullah, dengan kendaraan sebanyak 3 (tiga) unit mobil sebelummnya telah berencana pergi ke Sumatera Barat dengan tujuan kota Padang terlebih dahulu dan kemudian akan dilanjutkan ke kota Bukit Tinggi selepas acara pelepasan Jemaah Calon Haji Kecamatan Tempuling tahun 2008. Namun hal ini urung dilakukan karena waktunya tidak tepat. Akhirnya Keberangkatan ditunda dan dilanjutkan kembali seminggu kemudian.

Mulanya saya sedikit agak ragu untuk ikut berangkat bersama rekan-rekan, soalnya kalau saya berangkat saya terpikir pada istri saya yang tinggal sendirian merawat anak saya yang baru berusia 2 bulan. Namun akhirnya saya tetap berangkat sebab waktunya juga tidak terlalu lama hanya 2 harian.

Tiba saatnya rombongan kamipun berangkat, dengan personil lebih kurang 20 orang dengan 3 kendaraan. Ada banyak cerita sepanjang jalan kalau sudah beramai-ramai bepergian, apalagi dengan rekan-rekan sekantor. Mulai dari muda sampai tua, dan belum lagi cerita rekan-rekan yang tidak tahan naik mobil dan biasanya muntah-muntah sampai cerita pesanan tinja kuda yang dititipkan kepada salah seorang rekan kami untuk dibawa pulang nantinya. Sebab di tempat kami sangat tidak mungkin akan ditemukan tinja kuda soalnya tak satupun ada hewan yang namanya kuda.

Menjelang memasuki daerah propinsi tetangga ini ada salah seorang rekan yang bertanya kepada rekan lainnya “sudah berapa lama tidak berkunjung ke propinsi tetangga ? “ lantas rekan yang satu ini polos tanpa dosa menjawab “lebih kurang 53 tahun”. Mendengar jawaban yang demikian kami semua lantas terpingkal-pingkal tertawa. Soalnya yang ditanya umurnya sudah 53 tahun artinya semenjak lahir beliau tidak pernah menginjakkan kaki ke Sumatera Barat. Ha…ha…ha….

Trus ada lagi, saking ingin cepatnya sampai ditempat tujuan supir kami membuat keputusan mengambil jalan pintas eh ternyata setelah separuh perjalanan jalannya ditutup akibat adanya pengerjaan pengerasan jalan. Mau tak mau balik lagi ke jalan semula. Akibatnya apa, rekan yang satunya nyeletuk dan bilang “Kontraktornya bego, masa mengerjakan jalan kok gak dikasi rambu dipangkal jalan bahwa jalan tersebut tidak bisa digunakan sementara karena ada perbaikan”. Sekali lagi kami tertawa ha…ha…ha…

Waktu kira-kira sudah menunjukan pukul 23.00 wib. Kamipun sudah sampai di daerah yang namanya kata orang-orang kiliran jauh. Rombongan beristirahat sejenak sambil rehat minum dan makan ringan. Semua bingung memang memilih tempat makan dan minum untuk rehat. Pasalnya guide tidak ada dan peserta jalan-jalan ini semuanya serba gak tahu.

Pilih punya pilih dipilihlah kedai tempat jual sate padang. Kali aja enak soalnya sudah dinegerinya sendiri. Namun apa yang didapat saking ramainya rombongan kami, gelas minum teman makan satepun jadi diantre. Bahkan ada rekan yang tidak bisa minum soalnya gak ada gelas lagi. Ha..ha..ha…

Perjalanan kekota Padang dilanjutkan lewat sitinjau laut, sesampainya di kota Padang masalah muncul lagi sebab Lagi-Lagi Guide gak ada, jam telah menujukan pukul 02.00 dinihari. Hampir satu jam mencari penginapan yang pas dan setiap disinggahi penginapan penuh. Maklum saat itukan waktu libur akhir pekan. Sudah puas keliling akhirnya ketemu juga penginapan yakni di Hotel Jakarta. Tanpa pikir panjang lagi semua peserta wisata kali ini tidak menyia-nyiakan waktu untuk istirahat menjelang pagi di Hotel yang namanya Hotel Jakarta.

Pagi-pagi sekali rekan-rekan sudah bangun dari istirahat sebab perjalannan semalam cukup melelahkan. Saya bersama rekan sekamar bergegas pergi keluar untuk mencari sarapan pagi, di hotel gak ada sarapan, pake lama banget. Soalnya sesuai jadwal bahwa hari ini setelah keliling sebentar di Kota Padang ini akan langsung cabut menuju kota Bukit Tinggi.

Menjelang pukul 08.00 wib semua rekan sudah bersiap untuk berangkat keliling kota Padang dan Agenda penting kali ini adalah mengunjungi pantai manis (kata Supir kami) dimana disana ada kapalnya Malin Kundang yang telah menjadi batu akibat durhaka pada ibunya. Ada hal yang kembali membuat kami semua tertawa sebab supir kami agak kebingungan mencari jalan menuju arah pantai tersebut, dan sempat berputar-putar dua kali dijalan yang sama.

Untuk menghindari terjebak yang ketiga kalinya berputar-putar di jalan yang sama, terpaksa supir kami Tanya sana tanya sini pada orang-orang dijalan yang dianggap tahu arah menuju ke pantai tersebut. Akhirnya jalan terbuka dan ternyata arah jalan tersebut mendaki bukit yang cukup tinggi dan terjal. Saya membayangkan seandainya terjatuh nih mobil dan masuk jurang otomatis semuanya pulang hanya tinggal namanya saja lagi.

Namun Alhamdulillah kami sampai ditempat tujuan, dan pagi itu suasana masih terasa sepi. Orang-orang pada gak ada kemana ya…. Guman saya. Suasana pantai terasa begitu nyaman soalnya di tempat kami gak ada pantai sebagus ini. Semua rekan-rekan tak buang-buang waktu lagi langsung pasang posisi untuk dilakukan pemotretan sebagai kenang-kenangan. Tak ketinggalan juga berpose didekat dimana Kapal dan Malin Kundang yang telah menjadi batu.

Pada waktu yang bersamaan kebetulan ada turis dari Malaysia yang sepertinya satu keluarga juga mampir melihat-lihat Kapal dan Batu Malin Kundang. Sambil berpesan kepada anak-anak nya yang juga kebetulan ikut serta bahwa batu ini suatu bukti dan pelajaran bahwa jangan pernah durhaka kepada Ibu Bapak disamping dosa besar dan do’a ibu Bapak itu sangat Makbul.

Hampir separuh hari waktu kami habiskan di pantai dan menjelang siang kamipun beranjak meninggalkan pantai untuk mencari rumah makan soalnya perut semua peserta wisata sudah mulai keroncongan.

Jadwal yang semula setelah keliling kota Padang perjalanan akan dilanjutkan ke Bukit Tinggi sedikit mengalami perobahan. Sebab ada armada kami yang perlu dimasukan ke bengkel untuk menjalani perbaikan dan penggantian suku cadang. Maka perjalanan ke Kota Bukit Tinggi akan dilanjutkan keesokan harinya dan peserta wisata kali ini tetap menginap kembali di Hotel Jakarta.

Namun menjelang malam waktu dihabiskan berenang di pantai kota Padang. Dan sayang sekali pantai kota padang saat itu (waktu kami berkunjung) masih biasa saja tanpa ada pengelolaan dan penataan serta permainan-permainan yang dapat dinikmati para pengunjung. Alangkah bagusnya pantai tersebut dikelola dengan menambahkan berbagai macam permainan buat pengunjung semisal membangun Marine City dengan permainan-permainan seperti jetsky, selancar, perahu banana dan sebagainya oleh Pemerintah Daerah setempat, hitung-hitung untuk mendongkrak pendapatan asli daerah melalui objek wisata.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Bukit Tinggi dan dalam perjalanan kami singgah sebentar di air terjun lembah anai sambil berpose dan menikmati indahnya air terjun. Menjelang sampai di bukti tinggi kami semua juga tak lupa singgah makan sate yang kata orang kalau tak singgah untuk makan sate disini belum lagi ke sumatera barat (saya lupa nama tempatnya). Konon SBY presiden kita juga pernah singgah dan makan sate disini. Terbukti ada Foto-Foto beliau bersama robongan saat berkunjung di rumah makan tersebut.

Sesampainya di Bukit Tinggi matahari sudah diatas kepala dan ini pertanda perjalanan waktu sudah separoh hari. Rencana untuk mengunjungi objek wisata di Bukit Tinggi sepertinya akan batal sebab waktu tidak memungkinkan dan sore harinya kami semua sudah harus kembali pulang.

Sedikit agak kecewa namun apa hendak dikata kita selalu diburu waktu dan dibatasi oleh waktu. Namun sungguhpun demikian semua rekan-rekan nampak biasa dan dapat memahami dan sebagian berkata lain waktu kita akan berkunjung lagi.

Memang jalan-jalan kali ini momennya dan waktunya kurang pas. Kenapa saya katakan demikian karena jalan-jalan tidak pada saat waktu libur panjang, jadi wisata tidak bisa maksimal. Namun sungguhpun demikian semua rekan patut berterima kasih pada pimpinan karen jalan-jalan kali ini mungkin kado dan hadiah perpisahan dari pimpinan yang kabarnya tidak berapa lama lagi bakal akan dipromosikan. Selamat kita ucapkan…… Bagi anda siapa saja…… silahkan berkunjung ke Sumatera Barat, alamnya yang sejuk dan indah Insya Allah akan dapat menghilangkan stress dan ketegangan oleh rutinitas sehari-hari….

Ramadhan 1429 H Yang penuh Berkah dan PILKADA Langsung Indragiri Hilir Pertama dalam Sejarah  

Diposkan oleh Hendri

Bulan suci Ramadhan 1429 H bertepatan dengan tahun 2008 M tahun ini adalah bulan suci Ramadhan yang benar-benar penuh berkah buat saya. Sebab jauh sebelum Ramadhan datang Allah swt telah memberikan berbagai kemudahan dan kesuksesan setiap usaha dan pekerjaan yang akan saya selesaikan. Pertama adalah perjuangan untuk menyelesaikan studi akhirnya menampakan titik terang dengan telah dinyatakan lulus dalam yudisium di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indragiri (UNISI), setelah sehari sebelumnya tanggal 18 agustus 2008 saya mengikuti ujian oral comprehensive mempertahankan hasil penelitian skripsi saya. Kedua istri tercinta sedang hamil tua anak pertama saya, dan kemungkinan akan melahirkan pada antara Ramadhan dan Syawal 1429 H. Ada kebahagian dan perasaan was-was menanti kehadiran si buah hati. Rasa bahagia tentu ada karena tidak berapa lama lagi dalam rumah ini akan hadir warga baru yang kelak diharapkan menjadi orang yang berguna bagi keluarga, orang tua, agama, bangsa dan Negara. Perasaan was-was karena kawatir proses persalinan istri tercinta mengalami hambatan maklum istri dan saya tidak pernah mengalami dan menghadapi sebelumnya hal-hal seperti ini dan untuk pertama kalinya, sedangkan tempat bertanya dan bertukar pikiran dengan orang yang paling dekat (almarhumah Ibunda) sudah tidak ada lagi, mau tidak mau terpaksa saya boyong istri saya ke tempat mertua saya dengan harapan dapat membantu proses persalinan nantinya, sebab perkiraan dokter sepertinya meleset dan istri saya sudah keburu melahirkan di rumah, yang rencana semula akan melahirkan di klinik persalinan Tembilahan. Namun Alhamdulillah dan Puji syukur kehadirat Allah swt. Dengan pertolongan Allah swt dan dua orang bidan (Bidan kampung dan Bidan dari Puskesmas) Jabang bayi, Putra pertama lahir dengan selamat dan istri tercinta melahirkan dengan selamat tanpa hambatan yang berarti, tepatnya hari Kamis tanggal 18 Ramadhan 1429 H, lebih cepat 10 (sepuluh hari) dari perkiraan dokter sebelummnya.

Terasa sudah lama saya tidak memposting tulisan dalam blog saya ini dan juga entah berapa lama saya tidak membuka blog, karena konsentrasi saya terkuras pada penyelesaian skripsi dan persiapan menghadapi ujian oral yang bakalan dihadapai semester tahun ini, disamping rutinitas pekerjaan di kantor. Mungkin para teman dan sahabat di blog ada yang berkunjung ke blog saya dan meninggalkan pesan namun tidak dapat saya balas dan jawab untuk itu saya mohon maaf.

Ramadhan saya tahun 1429 H kali ini juga sebagaimana tahun sebelumnya banyak dihiasi dengan berbagai kegiatan, mulai Tarawih dan Tadarusan di mesjid Nurul Hidayah Sungai Salak, jadi pembawa acara yang dijadwalkan bergiliran saat sebelum salat Tarawih sampai ditunjuk menjadi bagian dari Panwaslih Pilgubri tahun 2008.

Kegiatan yang berskala besar dalam Ramadhan tahun ini adalah adanya pilkada langsung Gubernur dan wakil Gubernur Riau serta Bupati dan Wakil Bupati Indragiri Hilir sekaligus tanggal 22 September 2008 lalu untuk pertama kali dalam sejarah Kabupaten Indragiri Hilir.

Semua kita masyarakat Riau dan Indragiri Hilir hari ini saat saya memposting tulisan ini sudah tahu hasil dari proses Pemilihan langsung kedua kepala daerah tersebut. Untuk Pemilihan Gubernur Riau yang berhasil meraup suara terbanyak adalah pasangan calon RZ-MM yakni Rusli Zainal dan Mambang Mit, sedangkan untuk pemilihan Bupati Indragiri Hilir KPUD inhil sudah memutuskan dan menetapkan bahwa pasangan Idaman yakni Indra Muchlis Adnan dan Rosman Malomo sebagai pemenang pemilihan kepala daerah Kabupaten Indragiri Hilir tahun 2008.

Sebagai manusia biasa mahfum kita banyak memiliki kekurangan dan kelemahan. Pilkada langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah Indragiri Hilir yang barangkali sudah dipersiapkan dengan baik dan matang dan dengan dana serta biaya yang mahal dengan harapan dapat berjalan aman, damai dan tertib serta membawa hasil yang baik sudah barang tentu masih terdapat kekurangannya dan kelemahannya karena kembali lagi bahwa kita manusia sebagai pelaksana proses penyelenggaraan pilkada adalah mahluk yang tidak sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah swt saja. Namun kesempurnaan itu perlu diupayakan sebab kata orang bijak manusia yang selalu berusaha dan berupaya menuju kesempurnaan adalah manusia yang sempurna, walaupun kesempurnaan itu tidak pernah ada pada manusia.

Kabar terakhir yang saya amati bahwa pilkada Inhil masih mengalami sedikit gejolak karena ada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang tidak bisa menerima hasil pilkada yang telah dilaksanakan dan diputuskan KPUD Kabupaten Indragiri Hilir. Ada banyak argumen yang mereka sampaikan dan lemparkan ke orang yang berwenang menangani masalah pilkada serta Publik sehingga mereka tidak bisa menerima hasil pilkada.

Terlepas dari semua persoalan diatas saya berpikir bahwa Pilkada telah usai dan hasilnya juga telah diputuskan dan ditetapkan oleh KPUD Kabupaten Indragiri Hilir . Selanjutnya dengan semangat Idul Fitri 1429 H dan hasil tempaan Ramadhan 1429 H kita tinggalkan dan tanggalkan catatan hitam yang telah berlalu, mari kita bangun kembali inhil ini dengan semangat kebersamaan dan kejujuran serta bermartabat, yang berlandaskan semangat keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, semoga Kabupaten Indragiri Hilir Berjayaya dan Gemilang bagi rakyatnya dan bagi anak cucu kita kelak, dan semoga apa yang kita upayakan akan menjadi amal ibadah dan menjadi tabungan untuk akhirat kelak. Amin…. Wallahu’alam.